
Upacara Adat Mosehe
Mosehe adalah ritual tolak bala dan penyucian negeri dalam suku Tolaki di Sulawesi Tenggara
Upacara Mosehe
Mosehe (pensucian) adalah tradisi suku Tolaki yang dilaksanakan dalam skala besar dan diikuti oleh seluruh masyarakat. Mosehe berasal dari dua kata yaitu Mo dan Sehe yang memiliki arti melakukan sesuatu yang suci, sehingga tradisi ini bertujuan untuk mensucikan daerah dan menolak bencana dan akan dilaksanakan apabila ada suatu peristiwa yang menimpa negeri atau fenomena alam yang merugikan manusia, misalnya terjadi bencana alam, gagal panen, timbulnya wabah penyakit, keributan antar kehidupan manusia yang menimbulkan permusuhan dan kekacauan.
Sejarah
Tradisi Mosehe telah berlangsung secara turun temurun sejak abad ke-XIII pada zaman pemerintahan kerajaan dan dilanjutkan oleh raja Rumbalasa, setelah usai perang melawan Kerajaan Konawe. Setelah dua kerajaan tersebut berdamai, maka akan dilakukan upacara Mosehe bersama-sama dan bersepakat untuk menikahkan putra-putri mereka, yaitu Sangia Lombo-Lombo, putra dari Raja Larumbalasa mempersunting Wungabae putri dari Buburanda Saa I Wawo Latoma. Adapun Sangia Lomba-lomba juga pernah melaksanakan Mosehe, yaitu pada saat terjadinya peristiwa Kolombia. Pada awal abad XVII, Sangia Nilulo (Teporambe) juga mengadakan Mosehe, setelah beliau sembuh dari sakit yang berkepanjangan, dan dari sinilah awalnya sehingga mosehe dipadukan dengan Lalo Sangia yaitu acara ritual permohonan/penyembuhan kepada Sang Dewa atau Sangia agar supaya raja yang sakit dapat sembuh. Sejarah paling tua yang diketahui terkait Mosehe adalah yang terjadi dalam ritual Moseheine pepakawia (ritual mosehe dalam perkawinan) antara seseorang dari kecamatan Lambuya dengan seseorang dari kecamatan Konawe, berdasarkan sejarah di masa lampau yang melibatkan nenek moyang orang Tolaki di kedua wilayah tersebut.[3] I Wekasapu dan Laliasa adalah dua saudara yang berasal dari Konawe. Kemudian mereka berpisah, Wekasapu pergi ke Konawe, Laliasa pergi ke Asaki untuk mencari sagu, lalu mereka bertengkar hebat, akibat pertengkaran tersebut Wekasapu berkata bahwa selamanya anaknya tidak akan ada yang tinggal di Konawe dan selamanya pula anak cucunya tidak akan minum air dari Konawe. Wekasapu lalu ke Mowila. Namun dalam perjalanan kehidupan, terjadilah pernikahan antara kedua wilayah ini. Dengan terjadinya pernikahan itu maka sumpah tersebut harus ditawarkan melalui upacara Mosehe.
Prosesi
Pelaksanaan Mosehe umumnya dilakukan pada pagi hari, sekitar pukul 06.00–09.00. Waktu tersebut dipilih karena suasana pagi dianggap sejuk dan sesuai dengan tujuan Mosehe, yaitu mendinginkan keadaan yang dianggap panas, menghapus sumpah, serta mendamaikan pihak-pihak yang mengalami konflik. Tempat pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam maupun di luar rumah, bergantung pada jenis Mosehe. Mosehe inematea misalnya dilakukan di dalam rumah, sedangkan Mosehe umoapi dan Mosehe ndepokono biasanya dilaksanakan di luar rumah karena melibatkan banyak orang. Dalam pelaksanaannya, Mosehe menggunakan berbagai bahan dan perlengkapan ritual, seperti Kalo Sara, hewan kurban, telur, air, lilin, kain putih, daun sirih, pinang, kapur, pisau, parang, batang pisang, dan nyiru. Setiap perlengkapan memiliki makna simbolis. Daun sirih, kapur, dan pinang melambangkan kekeluargaan dan persatuan, sedangkan batang pisang melambangkan kesejukan. Hewan kurban, terutama kerbau atau sapi, melambangkan pengganti darah pihak yang berkonflik, sementara ayam atau telur melambangkan kesucian serta harapan agar dendam dan konflik dapat meninggalkan hati mereka. Perlengkapan lainnya juga memiliki makna tersendiri. Oduku atau nyiru digunakan sebagai tempat sesajian dan melambangkan kesatuan masyarakat Tolaki. Air yang digunakan untuk menyiram perlengkapan Mosehe dimaknai sebagai sesuatu yang sejuk, dingin, serta mampu melarutkan dan membawa pergi segala hal buruk. Taawu atau parang Tolaki dan opiso atau pisau digunakan sebagai bagian dari perlengkapan ritual. Selain itu, pondotono atau doa menjadi unsur penting yang disampaikan oleh mbusehe sebagai permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar konflik dapat diselesaikan dan kedamaian tercipta. Pihak yang terlibat dalam Mosehe terdiri atas tokoh adat atau toono motuo, keluarga pihak yang berkonflik, serta pihak-pihak yang membantu proses mediasi. Sebelum ritual dilaksanakan, tokoh adat berperan penting dalam memberikan nasihat dan mendamaikan pihak yang berselisih agar hubungan kekeluargaan dan silaturahmi dapat kembali terjalin. Dengan demikian, Mosehe tidak hanya merupakan ritual adat, tetapi juga menjadi sarana penyelesaian konflik, pemulihan hubungan sosial, serta penguatan nilai persatuan dalam masyarakat Tolaki.