Upacara adat Mewilo
Mewilo adalah upacara adat masyarakat Tolaki yang berkaitan dengan sunatan atau khitanan, terutama sebagai tanda bahwa seorang anak mulai memasuki tahap kehidupan yang lebih dewasa. Dalam siklus kehidupan masyarakat Tolaki, Mewilo tidak hanya dipandang sebagai tindakan terhadap tubuh, tetapi juga sebagai ritus peralihan yang mengubah kedudukan seorang anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Secara sederhana, jika Mesosambakai menandai kelahiran, Mepokui menandai tahap bayi melalui pemotongan rambut, maka Mewilo menandai salah satu tahapan penting menuju kedewasaan.
Cerita sejarah
Mewilo berkembang sebagai bagian dari tradisi kehidupan masyarakat Tolaki yang kemudian mengalami pertemuan dengan ajaran Islam. Dalam masyarakat Tolaki yang beragama Islam, sunatan menjadi praktik keagamaan yang penting, tetapi pelaksanaannya kemudian diberi bingkai adat sehingga tidak hanya menjadi kegiatan khitanan secara medis atau keagamaan. Karena itu, Mewilo dapat dipahami sebagai bentuk akulturasi antara adat Tolaki dan Islam. Dalam tradisi lama, seseorang yang telah menjalani Mewilo dianggap telah melewati suatu tahap kehidupan. Anak tidak lagi dipandang semata-mata sebagai anak kecil, tetapi mulai dipersiapkan untuk memahami tanggung jawab, norma, tata krama, dan kewajiban sosial sebagai anggota masyarakat. Hal ini menjadikan Mewilo memiliki dua dimensi sekaligus: dimensi religius → pelaksanaan khitan sebagai bagian dari ajaran Islam; dimensi adat → pelaksanaan upacara sebagai tanda perubahan status dan penerimaan sosial anak.
Siapa yang menjalani Mewilo ?
Mewilo terutama berkaitan dengan anak laki-laki yang akan menjalani sunat. Dalam praktik masyarakat, usia pelaksanaan tidak selalu sama. Dahulu, pelaksanaan dapat dilakukan ketika anak telah cukup besar untuk memahami bahwa dirinya sedang memasuki tahap kehidupan baru. Namun, pada masa sekarang usia pelaksanaan lebih fleksibel karena keluarga dapat menyesuaikannya dengan pertimbangan kesehatan, pendidikan, agama, dan kondisi keluarga. Karena itu, usia tidak sebaiknya ditetapkan sebagai satu angka yang mutlak untuk seluruh masyarakat Tolaki.
Tahapan prosesi Mewilo
1. Menentukan waktu pelaksanaan Keluarga menentukan waktu yang dianggap baik berdasarkan kesepakatan keluarga dan pertimbangan tokoh agama/adat. Dalam praktik sekarang, penentuan waktu juga sering mempertimbangkan kesiapan anak, kondisi kesehatan, serta jadwal keluarga. 2. Menyampaikan kepada keluarga besar Keluarga memberitahukan rencana pelaksanaan kepada kerabat. Hal ini penting karena Mewilo bukan hanya urusan anak dan orang tua, tetapi menjadi peristiwa keluarga besar. 3. Menyiapkan tempat Rumah keluarga menjadi salah satu tempat yang umum digunakan untuk kegiatan adat dan syukuran. Rumah pada konteks ini bukan sekadar tempat berlangsungnya acara, tetapi menjadi ruang sosial tempat keluarga besar berkumpul. 4. Menyiapkan kebutuhan upacara Keluarga menyiapkan berbagai kebutuhan, antara lain: perlengkapan khitan; pakaian anak; makanan dan minuman; perlengkapan doa; hidangan untuk keluarga dan tamu; perlengkapan adat apabila masih menggunakan bentuk tradisional. Dalam pelaksanaan modern, sebagian perlengkapan tradisional dapat disederhanakan.
Tahap pelaksanaan
1. anak dipersiapkan Anak dimandikan, dibersihkan, dan dikenakan pakaian yang telah dipersiapkan. Dalam konteks adat, tahap ini dapat dimaknai sebagai persiapan memasuki keadaan baru. Kebersihan tubuh juga mempunyai hubungan dengan nilai keagamaan dalam pelaksanaan khitan. 2. doa dan nasihat Sebelum proses sunatan dilakukan, keluarga atau tokoh agama dapat memberikan doa dan nasihat kepada anak. Nasihat tersebut pada dasarnya berisi harapan agar anak: sehat; selamat; menjadi anak yang baik; menghormati orang tua; mematuhi ajaran agama; memahami adat dan norma masyarakat; menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Bagian ini penting karena Mewilo bukan hanya tentang pemotongan bagian tubuh, tetapi tentang perubahan status sosial anak. 3. pelaksanaan sunat Kemudian dilakukan proses khitan/sunatan. Pada masyarakat masa lalu, proses tersebut dilakukan dengan cara dan peralatan yang tersedia pada zamannya. Dalam praktik masa kini, aspek medis tentu lebih diutamakan sehingga khitan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan tetap mempertahankan unsur syukuran dan adat dalam rangkaian acaranya. Hal ini memperlihatkan bahwa tradisi dapat berubah pada aspek teknis tanpa harus kehilangan makna sosialnya.