Upacara adat Mesosambakai
Mesosambakai adalah salah satu upacara adat dalam kehidupan masyarakat Tolaki yang berkaitan dengan kelahiran seorang anak, terutama anak pertama dalam sebuah keluarga. Secara praktik, Mesosambakai ditandai dengan kegiatan memandikan bayi secara adat dengan menggunakan perlengkapan tertentu serta pembacaan doa atau mantra oleh orang yang dianggap memiliki pengetahuan tentang ritual tersebut. Dalam inventarisasi sastra lisan Tolaki, Mesosambakai bahkan dijelaskan sebagai kegiatan memandikan bayi laki-laki maupun perempuan, dan doa yang digunakan dalam proses tersebut disebut mantra Mesosambakai. Mesosambakai tidak sekadar dipahami sebagai kegiatan membersihkan tubuh bayi. Dalam pandangan budaya masyarakat Tolaki, ritual ini merupakan penanda peralihan seorang anak ke dalam kehidupan sosial dan keluarga, sekaligus ungkapan harapan orang tua agar anak tumbuh sehat, kuat, memiliki kehidupan yang baik, dan berguna bagi keluarga serta masyarakat. Dalam klasifikasi ritual Tolaki, Mesosambakai termasuk upacara yang bersifat perpisahan sekaligus peralihan, bersama beberapa ritual kehidupan lainnya seperti mepokui dan upacara sunatan.
Cerita sejarah
Mesosambakai merupakan tradisi lama yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Tolaki. Bukti mengenai keberadaannya tidak hanya ditemukan dalam praktik adat, tetapi juga dalam sastra lisan Tolaki, khususnya mantra yang digunakan dalam ritual kelahiran. Badan Bahasa mencatat penelitian khusus mengenai Makna Mantra Mesosambakai Masyarakat Tolaki yang menunjukkan bahwa mantra tersebut merupakan salah satu bentuk kesusastraan lama yang tetap bertahan dalam masyarakat. Dalam tradisi lama, kelahiran anak pertama dipandang sebagai peristiwa penting bukan hanya bagi pasangan suami istri, tetapi juga bagi keluarga besar. Kehadiran seorang anak dipandang sebagai bertambahnya anggota dan penerus garis keluarga. Karena itu, pelaksanaan Mesosambakai sedapat mungkin melibatkan keluarga yang berasal dari satu garis keturunan dan lingkungan kerabat. Dengan demikian, ritual ini sekaligus menjadi sarana memperkuat hubungan kekerabatan. Terdapat pula cerita asal-usul Mesosambakai yang berkembang dalam tradisi masyarakat Tolaki Mekongga. Penelitian Aprilia dan Hak (2020) mencatat bahwa latar belakang tradisi tersebut dikaitkan dengan kisah seorang anak raja yang lahir dalam keadaan tidak memiliki tulang-belulang, kemudian setelah dilakukan ritual Mesosambakai anak tersebut dipercaya tumbuh menjadi anak yang normal. Kisah tersebut menjadi salah satu penjelasan tradisional mengenai pentingnya Mesosambakai dalam kehidupan masyarakat.
Tujuan Pelaksanaan
Secara budaya, Mesosambakai memiliki beberapa tujuan. a. Menyambut kelahiran anak Ritual ini menjadi bentuk penerimaan dan penyambutan seorang anak sebagai anggota baru dalam keluarga dan lingkungan sosialnya. b. Mendoakan kesehatan dan keselamatan anak Mantra Mesosambakai mengandung harapan agar anak tidak mudah sakit, memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, serta mampu menjalani kehidupan dengan baik. Badan Bahasa mencatat bahwa masyarakat yang masih mempercayai ritual ini menghubungkannya dengan harapan agar anak tumbuh sehat secara jasmani dan rohani. c. Menandai perubahan status orang tua Dalam pelaksanaan tradisional, setelah bayi dimandikan, keluarga mengucapkan kepada pasangan tersebut: “Tewalikoto ona o ina” — engkau kini telah menjadi seorang ibu. “Tewalikoto ona o ama” — engkau kini telah menjadi seorang ayah. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kelahiran anak sekaligus mengubah kedudukan sosial pasangan dari sekadar suami-istri menjadi ibu dan ayah. d. Mempererat hubungan kekerabatan Karena keluarga besar dilibatkan, Mesosambakai juga menjadi ruang berkumpul, saling membantu, dan memperkuat hubungan antarkerabat. e. Menjaga kesinambungan budaya Pembacaan mantra, penggunaan bahasa Tolaki, perlengkapan adat, serta keterlibatan orang tua adat menjadikan Mesosambakai sebagai salah satu media pewarisan pengetahuan budaya dari generasi tua kepada generasi berikutnya.
Proses upacara
A. Tahap Persiapan 1. Menentukan tempat pelaksanaan Dalam praktik tradisional, Mesosambakai dilaksanakan di rumah tempat bayi dilahirkan. Ketentuan tempat ini memiliki makna simbolis: bayi diharapkan kelak tetap memiliki rasa cinta terhadap rumah, keluarga, kampung, dan tanah kelahirannya. 2. Menentukan waktu Pelaksanaan tradisional dilakukan menjelang matahari naik, yang secara simbolis dikaitkan dengan harapan agar kehidupan anak terus meningkat, panjang umur, memiliki nasib baik, kuat, dan sehat. 3. Mengundang keluarga Keluarga dari garis keturunan yang sama diundang untuk hadir. Dalam praktik lama, keterlibatan keluarga dapat meluas hingga kerabat dekat dan tetangga sekitar. Mereka dapat membantu menyediakan makanan maupun membantu persiapan acara. 4. Menyiapkan perlengkapan adat Beberapa perlengkapan yang dicatat dalam sumber etnografi antara lain: watu mbesosambakai — batu khusus yang digunakan dalam pemandian bayi; pingga mbebahoa — piring besar/piring pusaka untuk pemandian; lanu motaha — daun agel yang diberi warna merah; lanu momata — daun agel asli; tawa nese — daun irut; tumbu mbundi — pucuk pisang; tawa rema — daun enau; tawa mbundi — daun pisang; tawa towo'a — daun temu lawak; tawa doule — daun doule, sejenis tumbuhan yang dikaitkan dengan kesuburan. Tidak semua perlengkapan tersebut selalu digunakan dalam praktik masyarakat sekarang karena terjadi perubahan dan penyederhanaan ritual di sejumlah tempat.
Nilai yang terkandung dalam upacara
Nilai religius, karena terdapat doa atau mantra yang berisi permohonan keselamatan, kesehatan, dan kebaikan bagi anak. Nilai kekeluargaan, karena kelahiran anak dipandang sebagai peristiwa keluarga besar sehingga kerabat dilibatkan dalam pelaksanaan ritual. Nilai pendidikan, karena melalui ritual tersebut anak-anak dan generasi muda dapat belajar mengenai adat, bahasa, simbol, dan tata kehidupan masyarakat Tolaki. Penelitian tentang Mesosambakai pada masyarakat Tolaki Mekongga juga mengidentifikasi nilai pendidikan sebagai salah satu nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai identitas budaya, karena Mesosambakai menjadi salah satu penanda identitas masyarakat Tolaki sekaligus tempat bertahannya sastra lisan berupa mantra. Badan Bahasa mencatat bahwa mantra Mesosambakai merupakan warisan kesusastraan lama yang masih ditemukan dalam masyarakat Tolaki.