Budaya Tolaki
Detail Budaya
Adat Istiadat

Upacara adat Mepokui

Mepokui adalah upacara adat masyarakat Tolaki berupa pemotongan rambut bayi yang dilaksanakan setelah bayi mencapai usia tertentu, umumnya 40 hari atau lebih. Mepokui merupakan salah satu ritual penting dalam rangkaian kehidupan seorang anak pada masa bayi. Dalam klasifikasi ritual masyarakat Tolaki, Mepokui termasuk upacara yang bersifat perpisahan sekaligus peralihan, karena melalui ritual ini bayi mengalami perubahan dari suatu tahap kehidupan menuju tahap berikutnya. Mepokui bukan sekadar kegiatan mencukur rambut bayi. Di dalamnya terdapat doa, pembacaan Barasandi/Bersanji, keterlibatan keluarga besar, penyediaan makanan adat, serta simbol-simbol tertentu yang menggambarkan harapan keluarga terhadap kehidupan anak. Mantra dan doa memang mempunyai tempat dalam berbagai ritual Tolaki, termasuk ritual potong rambut. Badan Bahasa mencatat bahwa mantra digunakan dalam ritual Tolaki seperti Mesosambakai dan Mepokui sebagai ungkapan harapan dan kekuatan bagi keberhasilan ikhtiar manusia.

Cerita sejarah

Mepokui merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Tolaki. Tradisi ini berkembang sebagai bagian dari siklus kehidupan manusia, khususnya sejak seorang anak dilahirkan hingga memasuki tahap-tahap kehidupan berikutnya. Hubungan antara Mesosambakai dan Mepokui sangat erat. Dalam tradisi Tolaki, Mesosambakai merupakan upacara kelahiran/penyambutan bayi pertama, sedangkan Mepokui merupakan upacara yang dilaksanakan setelahnya ketika bayi memasuki usia yang dianggap tepat untuk dipotong rambutnya. Karena itu, kedua upacara tersebut dapat dipahami sebagai rangkaian ritual kehidupan pada masa bayi. Secara sosial, kelahiran seorang anak tidak hanya dipandang sebagai peristiwa bagi ayah dan ibu, tetapi juga sebagai peristiwa bagi keluarga besar. Karena itu, pelaksanaan Mepokui secara tradisional melibatkan keluarga dari garis keturunan yang sama. Bahkan sumber etnografi mencatat bahwa keluarga dan tetangga dapat hadir untuk membantu menyediakan tenaga maupun bahan makanan.

Tujuan Upacara

a. Sebagai tanda peralihan tahap kehidupan bayi Mepokui menandai bahwa bayi telah melewati tahap awal kehidupannya dan memasuki tahap berikutnya. Karena itu, Mepokui termasuk dalam ritual peralihan masyarakat Tolaki. b. Sebagai ungkapan syukur Keluarga menyelenggarakan Mepokui sebagai ungkapan syukur atas pertumbuhan dan keselamatan bayi sejak kelahirannya. c. Mendoakan kehidupan anak Doa dan pembacaan Bersanji/Barasandi menjadi bagian penting dalam prosesi. Doa tersebut mengandung harapan agar anak memperoleh kehidupan yang baik, sehat, selamat, dan mendapat keberkahan. d. Memperkenalkan anak kepada keluarga besar Melalui Mepokui, anak secara sosial semakin diperkenalkan sebagai bagian dari keluarga besar dan lingkungan kekerabatannya. e. Memperkuat hubungan kekerabatan Kehadiran keluarga, kerabat, dan tetangga menjadikan Mepokui sebagai ruang berkumpul dan memperkuat hubungan sosial. f. Pewarisan budaya Mepokui menjadi salah satu media untuk mewariskan bahasa Tolaki, doa, tata cara adat, simbol, makanan tradisional, dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

Prosesi adat

1. Menentukan tempat Berbeda dengan Mesosambakai yang dilaksanakan di rumah tempat bayi dilahirkan, Mepokui secara tradisional dapat dilaksanakan di rumah orang tua anak atau rumah kakek/neneknya. Hal ini menunjukkan bahwa Mepokui mempunyai dimensi sosial yang lebih luas karena melibatkan keluarga besar. 2. Mengundang keluarga dan kerabat Keluarga dari garis keturunan yang sama diundang untuk menghadiri upacara. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari komunitas kekerabatan yang ikut mendoakan dan mendukung kehidupan anak. 3. Menyiapkan pemimpin ritual Dalam dokumentasi etnografi, Mepokui dipimpin oleh seorang imam dan beberapa orang yang membantunya. Mereka membaca kitab Bersanji dalam rangkaian upacara. 4. Menyiapkan perlengkapan Sumber etnografi mencatat beberapa perlengkapan makanan dan alat yang disediakan, antara lain: sekitar 40 ketupat nabi; sekitar 40 lapa-lapa; satu sisir pisang; dua piring kina barasandi; satu piring/mangkok berisi beras; satu butir telur ayam yang ditanam di dalam beras; satu helai daun irut; satu buah kelapa muda yang telah dilubangi; minyak kelapa; hidangan kepala kambing; gunting untuk memotong rambut bayi. Selain itu, soko atau nasi tumpeng dari beras ketan juga dikenal sebagai makanan yang berkaitan dengan upacara Mepokui. Sumber kebudayaan Sulawesi Tenggara mencatat bahwa soko dibuat dalam bentuk tumpeng tinggi dengan telur goreng di bagian puncaknya.

Pelaksanaan Upacara

1. Pembacaan Bersanji Upacara potong rambut ditandai dengan pembacaan kitab Bersanji oleh imam dan sejumlah orang yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an. Hal ini menunjukkan adanya pertemuan antara tradisi adat Tolaki dengan praktik keislaman dalam pelaksanaan Mepokui. 2. Bayi digendong Bayi kemudian digendong oleh seorang anak remaja. Dalam dokumentasi tradisional: apabila bayi yang dipotong rambutnya laki-laki, bayi digendong oleh remaja laki-laki; apabila bayi perempuan, bayi digendong oleh remaja perempuan. 3. Sanjungan kepada Nabi Muhammad Sebelum pembacaan Bersanji berlangsung, peserta berdiri membentuk lingkaran dan melantunkan sanjungan kepada Nabi Muhammad. Dalam sumber etnografi, prosesi tersebut disertai lantunan: “Sallallahu Allah Muhammad...” kemudian pemotongan rambut dilakukan secara bergantian. 4. Pemotongan rambut Inilah inti dari Mepokui. Rambut bayi dipotong secara bergantian oleh lima orang dari peserta pembacaan Bersanji yang dianggap memiliki keberkahan, termasuk imam yang memimpin upacara. Dengan demikian, pemotongan rambut bukan dilakukan oleh satu orang saja, tetapi menjadi bagian dari tindakan kolektif yang mengandung doa dan harapan dari orang-orang yang hadir. 5. Rambut dipotong secara simbolis Pemotongan tidak semata-mata dimaksudkan untuk mencukur rambut bayi sampai habis, tetapi menjadi simbol dimulainya tahap kehidupan baru.

Nilai-nilai dalam upacara

Nilai religius Terlihat dari pembacaan Bersanji, doa, dan permohonan keberkahan bagi kehidupan anak. Penelitian Badan Bahasa mengenai mantra Tolaki juga menunjukkan bahwa praktik ritual dan mantra berkaitan dengan harapan agar ikhtiar masyarakat memperoleh hasil yang baik. Nilai kekeluargaan Mepokui melibatkan keluarga besar dan kerabat sehingga memperkuat hubungan antargenerasi. Nilai gotong royong Keluarga dan tetangga dapat membantu menyediakan makanan, tenaga, serta kebutuhan pelaksanaan upacara. Nilai pendidikan Generasi muda tidak hanya menjadi penonton. Dalam prosesi tradisional, remaja bahkan diberi peran untuk menggendong bayi. Dengan demikian, mereka belajar mengenai adat melalui partisipasi langsung. Nilai identitas budaya Mepokui mempertahankan unsur bahasa, makanan, tata upacara, hubungan kekerabatan, dan praktik keagamaan masyarakat Tolaki.