Budaya Tolaki
Detail Budaya
Upacara adat Mateaha
Adat Istiadat

Upacara adat Mateaha

Mateaha merupakan rangkaian adat yang berkaitan dengan peristiwa kematian seseorang dalam masyarakat Tolaki. Kematian dipandang bukan hanya sebagai peristiwa biologis, tetapi juga sebagai peristiwa sosial yang menyangkut keluarga, kerabat, dan masyarakat. Karena itu, ketika seseorang meninggal, keluarga tidak hanya melakukan pengurusan jenazah, tetapi juga menjalankan berbagai bentuk penghormatan, penghantaran, doa, dan penyelesaian hubungan sosial antara orang yang meninggal dengan keluarga yang ditinggalkan. Dalam konteks masyarakat Tolaki yang mayoritas beragama Islam, pelaksanaan Mateaha juga memperlihatkan pertemuan antara adat Tolaki dan ajaran Islam, terutama dalam hal pengurusan jenazah, doa, pemakaman, dan kegiatan setelah kematian.

Cerita sejarah

Mateaha merupakan bagian dari tradisi masyarakat Tolaki dalam menghadapi kematian yang diwariskan antargenerasi. Pada masa lalu, kematian seseorang merupakan peristiwa yang melibatkan seluruh jaringan kekerabatan. Keluarga tidak dibiarkan menghadapi kematian seorang anggota keluarga sendirian. Kerabat datang untuk membantu, masyarakat berkumpul, dan berbagai kebutuhan pemakaman dipersiapkan secara bersama-sama. Dengan demikian, Mateaha sejak awal memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar ritual kematian. Ia menjadi mekanisme sosial untuk memperkuat solidaritas masyarakat ketika sebuah keluarga mengalami kehilangan. Seiring masuk dan berkembangnya Islam di wilayah Tolaki, sebagian tata cara kematian mengalami perubahan. Praktik-praktik yang berhubungan dengan keyakinan lama berangsur-angsur beradaptasi dengan tata cara pemakaman Islam, sementara unsur sosial dan adat seperti gotong royong, penghormatan kepada keluarga yang meninggal, dan keterlibatan kerabat tetap dipertahankan.

Tujuan upacara

a. Menghormati orang yang meninggal Upacara menjadi bentuk penghormatan terakhir keluarga kepada orang yang telah meninggal. b. Mengantarkan jenazah Kematian dipandang sebagai sebuah perjalanan dari kehidupan dunia menuju kehidupan setelah kematian. Karena itu, keluarga dan masyarakat mengiringi jenazah sampai ke tempat peristirahatan terakhir. c. Mendoakan orang yang meninggal Dalam masyarakat Tolaki yang telah memeluk Islam, doa untuk orang yang meninggal menjadi bagian penting dari rangkaian kematian. d. Menguatkan keluarga yang ditinggalkan Kehadiran kerabat dan masyarakat memberikan dukungan moral kepada keluarga yang sedang berduka. e. Memperkuat solidaritas Kematian menjadi momentum munculnya mekohori atau semangat saling membantu, terutama dalam mempersiapkan pemakaman dan kebutuhan keluarga.

Prosesi adat

Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga segera memberitahukan kabar tersebut kepada kerabat dan masyarakat sekitar. Kabar kematian memiliki fungsi sosial yang penting karena masyarakat kemudian datang untuk: menyampaikan belasungkawa; membantu keluarga; membantu mempersiapkan pemakaman; memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka. Dalam kehidupan masyarakat tradisional, berita kematian tidak hanya menjadi urusan keluarga inti, tetapi menjadi perhatian keluarga besar dan komunitas.

Pengurusan jenazah

Setelah keluarga menerima kabar kematian, jenazah kemudian dipersiapkan. Dalam masyarakat Tolaki yang beragama Islam, pengurusan jenazah mengikuti prinsip-prinsip Islam, antara lain: memandikan → mengafani → menyalatkan → memakamkan. Di sinilah terlihat bahwa adat Tolaki mengalami proses adaptasi dengan ajaran Islam. Masyarakat tetap menjalankan nilai adat seperti penghormatan kepada orang meninggal dan keterlibatan keluarga, sementara tata cara pokok pengurusan jenazah mengikuti ketentuan agama.

Memandikan jenazah

Jenazah dimandikan oleh orang yang dianggap mampu dan dipercaya oleh keluarga. Dalam konteks adat, kegiatan ini bukan hanya tindakan membersihkan tubuh, tetapi merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal. Keluarga biasanya memberikan perhatian terhadap tata cara dan kehormatan jenazah selama proses berlangsung.

Mengafani Jenazah

Setelah dimandikan, jenazah dikafani sesuai dengan ketentuan agama Islam. Pada tahap ini keluarga mulai mempersiapkan proses selanjutnya, yaitu pelaksanaan salat jenazah dan pemakaman.

Salat dan Doa

Jenazah kemudian disalatkan oleh keluarga, kerabat, dan masyarakat yang hadir. Doa menjadi unsur penting karena keluarga berharap agar orang yang meninggal memperoleh ampunan dan rahmat Tuhan. Tahap ini memperlihatkan bahwa Mateaha dalam masyarakat Tolaki Muslim telah mengalami integrasi yang kuat dengan tradisi Islam.

Pengantaran Jenazah

Jenazah kemudian dibawa menuju tempat pemakaman. Pengantaran jenazah merupakan salah satu bagian yang memiliki makna sosial kuat. Masyarakat yang hadir secara bersama-sama mengiringi orang yang meninggal menuju tempat peristirahatan terakhir. Secara simbolis, tindakan ini menunjukkan bahwa: seseorang tidak menghadapi kematian seorang diri; keluarga dan masyarakat tetap berada di sisinya sampai akhir perjalanan.

Pemakaman

Jenazah kemudian dimakamkan sesuai tata cara Islam. Keluarga dan masyarakat yang hadir mengikuti proses pemakaman dan memberikan doa. Setelah pemakaman selesai, biasanya keluarga dan masyarakat berkumpul kembali.

Setelah Pemakaman

Dalam masyarakat Tolaki, hubungan sosial dengan keluarga yang berduka tidak langsung berhenti setelah jenazah dimakamkan. Kerabat tetap datang untuk memberikan dukungan. Kegiatan setelah kematian dapat berupa: doa bersama; pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an; pemberian bantuan kepada keluarga; berkumpulnya keluarga besar; kegiatan mengenang orang yang telah meninggal. Bentuk dan waktunya dapat berbeda-beda sesuai dengan tradisi masyarakat setempat dan praktik keagamaan keluarga.

Makna mateha

Mateaha adalah upacara yang berkaitan dengan kematian dalam masyarakat Tolaki yang tidak hanya dimaknai sebagai proses mengurus dan memakamkan seseorang yang telah meninggal, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terakhir, penghantaran menuju kehidupan setelah kematian, serta momentum untuk memperkuat hubungan keluarga dan solidaritas masyarakat. Dalam perkembangannya, pelaksanaan Mateaha pada masyarakat Tolaki yang beragama Islam mengalami perpaduan antara nilai adat Tolaki dan tata cara Islam dalam pengurusan jenazah. Kehadiran keluarga, kerabat, dan masyarakat dalam seluruh rangkaian kematian menunjukkan bahwa seseorang merupakan bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas; bahkan ketika seseorang meninggal, hubungan sosial antara keluarga dan masyarakat tetap dipelihara melalui doa, bantuan, dan pendampingan terhadap keluarga yang ditinggalkan.